Kenapa Salah?

Aku sering sebel sama orang (bahkan instansi) yang nulis ucapan selamat hari raya dengan sok fashih. Kebanyakan kesalahannya ada di transliterasi, bahkan tidak sedikit yang salah baca pula. Huhh!!

Aslinya: من العاءدين و الفاءيزين
Transliterasinya: minal 'aaidiin wal faaiziin

Tapi ga sedikit yang tulis beginian: (maaf ga pakai bukti)
- minal aidzin wal faidzin (banyak banget yang begini, eg: Telkom),
- minal aidin walfa idzin (kalau ga salah Dishub, Kepolisian),
- minal aidin wal waidzin (meleset dikit)

Tapi yang aku bangga, perpustakaan tempat sewa komik aja udah bener tulisnya:
"minal aidin wal faizin" (maklum kalau tulis mad repot juga)
Semoga Allah menerima shiyam dan qiyam kita :D

Sayang Anak

Waktu aku beli ke pasar untuk beli timun, aku mendengar reklame pedagang mainan yang sebetulnya biasa saja, tapi kali ini adalah versi enchanched dari yang biasa kita dengar.

Reklamenya begini:
(waktu itu bapak penjual menawarkan kembang api)
Sayang anak... sayang anak..
sayang anak... sayang adik...
ra nduwe anak... gawe dhisik.


LOL! Entah kenapa orang Jawa selalu punya selera humor, walaupun itu menyangkut seks yang beberapa orang nilai candaan seperti ini gross. Setidaknya orang-orang di sekitar pedangang tersebut tertawa (atau sekadar tersenyum), begitu juga saya.

Multi-boot openBSD 4.7 di GRUB(2)

Kasus multi-boot yang ini sempat jadi masalah di lab untuk beberapa hari, kira-kira 2 pekan gara-gara ditinggal juga.

Langsung ke jawabnya:
menuentry "OpenBSD 4.7" {
set root=(hd1,3,a)
boot OpenBSD.bin
chainloader +1
}


OpenBSD.bin di atas adalah PBR (Partition Boot Record) dari openBSD 4.7 sendiri.
bisa diambil dengan # dd if=/dev/rsd0a of=openbsd.pbr bs=512 count=1
waktu boot openBSD. Penjelasan di sini

Jangan lupa set root partition yang bener.

Kecap dan Botol

Kadang kita benar-benar kurang peduli terhadap hal yang sehari-hari terjadi di sekitar kita, dengan dalih kita masih sibuk dengan kepentingan kita masing-masing. Padahal hidup mungkin bisa lebih "baik" jika kita lebih "sibuk", juga dengan kepentingan orang lain.

Tadi malam (7/8) saat saya keluar bersama keluarga, di tengah perkampungan tampak seorang penjual bakso, bukan pemandangan yang spesial dilihat memang, tapi seketika botol kecap jatuh dari gerobaknya, padahal tidak ada polisi tidur atau hal lain tampak, yang menggoncang gerobaknya sehingga botol kecap tersebut jatuh.

Walaupun botol dan kecap di dalamnya tidak bakal berharga lebih dari 20 ribu rupiah (sebelum menjadi 20 rupiah setelah rencana denominasi terealisasi ./hehe ), aku yakin semua orang akan berpikir "kasihan" (jika tidak berarti Anda kurang sensitif). Lalu apa yang seharusnya aku lakukan?

Lalu pelajaran apa yang kita dapat?
Pakai kemasan yang tidak pecah saat terjatuh, bukan botol kaca yang sama dengan botol minuman keras racikan lokal (beberapa kecap dan saus difermentasi di pabrik yang sama dengan minuman keras merk lokal)

// ditemani Brutal Truth, album "Evolution through Revolution" saat menulis empat paragraf kacau di atas.

Desktop Narsis(lagi)

Setelah sebelumnya narsis di lepi, sekarang di dekstop Lasifku.
desktop di lab

Tetap XFCE, tetap klan Slackie juga!

RisTIE openResearch

Mari-mari, daftar open-riset RisTIE Elektro.
fetch here

Monolog Payah

Aku masih ingat, saat aku duduk di "gajah" yang berputar, aku terlempar dan aku menangis.
Aku masih ingat, saat aku benar-benar ingin melompat ke bak pasir yang sudah tidak putih lagi.
Aku masih ingat, saat datang telat dan diberi roti coklat-kacang.
Lalu apa?

Terima kasih, Ayah!

Aku masih ingat saat kami adalah keluarga besar, di mana aku berperan jadi anak yang (paling) nakal.
Aku masih ingat saat kami membicarakan hal yang tidak pantas sambil memandangi pohon palem--bergaya seperti orang dewasa.
Aku masih ingat saat Ibu keliru memahami tentang aku dan mainan itu, lalu mengapa aku menangis?
Aku masih ingat saat harus naik ke panggung.
Aku masih ingat betapa superior dapat berpikir sama sederhananya denganku.
Aku ingat waktu aku benar-benar dimanja.
Aku ingat waktu aku pertama kali mengenal dia yang aku harap bisa duduk bersamaku untuk waktu yang lama.

Terima kasih, saudara-saudaraku!

Aku masih ingat waktu aku datang telat, dipanggil ke kantor, dan siangnya mengejek komputer yang tidak sejalan dengan seleraku.
Aku masih ingat waktu aku duduk di kursi kayu yang bentuknya dari kiri ke kanan sama, duduk di baris kelima.
Aku masih ingat, Matematika integral dasar, kami disuruhsa mencari volume bangun putar dari dua (persamaan) garis yang berbeda sebagai batas bangunnya.
Aku masih ingat, kemudian aku disuruh maju ke depan, mengerjakan soal, jawabannya sebetulnya cukup mudah, tapi memang aku jarang "memegang" papan tulis.
Aku masih ingat, saat disuruh kembali karena pekerjaan di papan tulis belum selesai---why don't you let me do it they way I am willing to do?
Aku masih ingat saat aku membolos Fisika, tidur di mushala, lalu membenamkan diri di kamar mandi.
Aku masih ingat saat maaf yang diberikan terasa begitu instan
Aku masih ingat saat dimarahi karena tidak meneriakkan jawabanku, dan air putih itu...

Terima kasih, Paman dan Bibi! I've got my own way!

Aku, kali ini benar-benar kehilangan tujuan.
Aku, saat ini butuh orang yang bisa menarikku maju ke panggung, mendorongku saat aku diam di antrean yang sudah maju selangkah, menambahkan satu baris code yang aku terlupa, berbagi makanan, membantu merakit tiap node dalam cluster.

Aku harap Ibu masih di sana, walaupun hanya sekadar memberi sekapan di keningku, walau aku hanya bisa menyentukan telapak tangannya di dahiku di pagi hari.
Karena aku segera berlari bersama yang lain, dan yang lain, dan yang lain lagi.