Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

musik Indonesia

Ghea Indrawari yang Kangen-nya sungguh menyentuh bisa aja ndak lulus.

Ini antara budaya menulis di Indonesia kelewat kritis, manajemen artis yang kelewat nyuruh rekaman/konser terus, lingkup akademis yang kurang dinamis, atau memang Indonesia ini ndak ngerti musik?

Dilihat dari SKS yang sudah ditempuh, nampaknya coursework Ghea sudah selesai (bisa jadi ada mata kuliah yang lulus tidak optimal, sih). Ada beberapa mata kuliah yang hendak diulang dan skripsi yang tidak kunjung sidang.

Tapi begini, zaman Mbah Raden Koesbini musik bisa ditulis yang sesuai dengan konteks sosial saat itu, menggugah hati, dan masyarat ngerti. Di samping itu Beliau juga ngajar di (proto)- ISI Jogja dan sanggar olah seni di tempat sendiri, ada siswanya yang belajar di situ dalam kerangka pendidikan formal. Beliau juga nulis buku sebagai outlet kecendikiaan, masih tetap nulis lagu dan tampil juga sebagai outlet artistik Beliau.

Cerita Ghea ini sangat disayangkan sekali. Musik yang dia nyanyikan, orang Indonesia ngerti dan suka. Sakjane mung kari nulis wae paling. Kalau karya dia direkam dalam korpus pendidikan, paling tidak generasi penggiat seni di esok hari bisa menilik kembali karya manusia Indonesia tentang seni musik ini. Bisa menginspirasi dengan model rujukan yang punya rekam kepustakaan. Lek ngene, paling cuma kita cuma bisa dengerin Ghea di Youtube, Spotify, Soundcloud. Kalau service-nya sudah ndak rame, pudar nanti. Semuanya bakal pudar, sih. Tapi agak sedih juga kalau semuanya sekadar kontemporer.

Walaupun kembali gini juga ndak bisa dipaksa. Kendala kuartet-partit uang-bakat-minat-kontrubusi (ala Ikigai) yang dialami Ghea waktu kuliah ya ndak semudah saya nulis tulisan ini bisa diselesaikan.

One liner shell of the day : #45 (mirror direktori lokal dan google drive )

rclone sync "sage_latex_template_4/" "gdrive:/work-current/" -v

Hati-hati aja ini jalannya over-write. Silahkan cek direktori bak sampah kalau ada file yang mendadak hilang.

Derita Peneliti

Derita peneliti dengan budget yang pas-pasan itu:

Following the acquisition of  AP by SN, this journal has moved to SL. Please refer to the new journal homepage here for more information.

AP tahun lalu gratis, SL itu berbayar--mahal pulak.

Mencari indeks sel dengan nilai maksimum atau minimum

Kadang waktu pakai aplikasi spreadsheet, contoh: libreoffice calc, microsoft excel; kita butuh mencari indeks dari sel dengan nilai tertentu: nilai maksimum, minimum, rerata, atau nilai yang kita tentukan secara bebas.

[code]=MATCH(MAX(E1:E2400),E1:E2400,0)[/code]

kembaliannya adalah baris di kolom E dengan nilai maksimum. 0 berarti kolom tersebut tidak diurutkan.

To share is to care

Cewe cakephttps://engineuring.wordpress.com/2016/03/11/sci-hub-is-a-goal-changing-the-system-is-a-method/

Dan kelakukannyahttps://torrentfreak.com/sci-hub-ordered-to-pay-15-million-in-piracy-damages-170623/

Harapan dia adalah banyak orang bisa baca artikel riset secara gratis, sebagaimana kita tahu kenbanyakan artikel riset akademis/industri diterbitkan oleh penerbit dengan prestise. Prestise di sini kadang diukur dengan impact factor, nama, ongkos penerbitan, citation count, and lainnya. Dari sini kita bisa nyatakan: Alexandra (dan teman-teman) vs penerbit artikel riset. Komentar dari beberapa penerbit (AAP dan ASTM) bernada seperti ini:

“...it has recognized the defendants’ operation for the flagrant and sweeping infringement that it really is and affirmed the critical role of copyright law in furthering scientific research and the public interest.”

“Sci-Hub does not add any value to the scholarly community. It neither fosters scientific advancement nor does it value researchers’ achievements. It is simply a place for someone to go to download stolen content and then leave.”

Kepentingan publik ini seperti apa? Publikasi artikel riset apa harus dilengkapi dengan prestise, citra, dan royalti? Akses dan keterbukaan SciHub juga merupakan hal baik buat orang-orang yang belum tentu scholarly atau sekadar tidak punya cukup uang untuk berlangganan. Pengunjung SciHub tetap ngetem selama webnya ada dan mereka punya ketertarikan dengan topik risetnya. Kerja sama antara peneliti (secara personal) tentunya lebih spesial dibanding research achievement metrics yang digunakan untuk mengukur values itu.

Analogi gvblvk

Ambil contoh loper koran: penerbit butuh cetak sekian oplah untuk menjamin keberlangsungan bisnisnya, ada loper koran yang kurang kerjaan dengan memperbolehkan semua orang (yang tertarik) membaca koran dengan gratis [masalahnya korannya ga jadi lecek dan pola distribusinya begitu luas dan cepat]. Akhirnya tidak banyak orang yang membeli koran, penerbit merugi dan bisa jadi enggan menerbitkan artikel-artikelnya. Penerbit kemudian ternak lele dan bercocok tanam bersama dengan si loper karena sudah tidak ada bisnis koran lagi.

Kalau hendak merujuk lebih ke sisi teknis analogi tadi, modus operandi SciHub cukup bisa diterka: unduh banyak artikel dari penerbit-penerbit dengan proxy berbagai pihak yang bisa mengunduh artikel-artikel riset secara sistemis, tetapkan identifier masing-masing artikel, simpan di server pribadi (kalau taruh CDN bakal lebih runyam rasanya), sebarkan informasi ini ke komunitas-komunitas yang hendak baca artikel. SciHub sebenarnya juga terbantu dengan sistem publikasi dan pengarsipan yang rapi yang dilakukan oleh penerbit-penerbit. Kalau penerbit-penerbit cuma menerbitkan artikel riset dalam bentuk buku seperti zaman dulu, SciHub harus siap-siap memindai artikelnya satu-satu dan SciHub tidak bakal semasif ini.

Yang terkahir, mengapa Alexandra?

Kebanyakan orang yang bermain di acara bajak-bajakan yang bersikap dewasa; entah untuk tujuan altruistik, sekadar cari konten untuk web biar ramai, membangun koleksi pribadi; memilih tetap anonim. Pertimbangannya mulai dari menghindari resiko legal, menjamin keberlangsungan proyek bajak-bajaknya, dan menjaga kesetaraan di komunitasnya. Beberapa institusi memilih untuk mencari celah legal (e.g. citeseer) dengan kerjasama dengan penulis dan penerbit yang lebih terbuka. Alexandra terpampang sebagai pendiri SciHub sementara rekanannya dirujuk anonim di dokumen legal ini. Kadang saya tidak habis pikir apa nyaman kalau nama kita jadi penanda masalah buat orang lain begini.

Saya cuma berdoa semoga dia tetap tegar serta semua orang bisa saling terbuka dan rukun.

Keterkaitannya dengan kita?

Dewasa ini, lingkup akademis semakin ditekan dengan model "publish (at certain places) or perish". Tridharma Perguruan Tinggi Indonesia mencakup: pengabdian masyarakat, memajukan ilmu pengetahuan, dan diseminasi ilmu pengetahuan. Konflik macam SciHub ini rasanya cuma sekelumit di bagian diseminasi. Intinya, kesarjanaan di Indonesia harusnya tidak bakal habis kalau cuma model penerbitannya tidak begitu modern.

Scilab: Random Integer

Fungsi rand() di Scilab membangkitkan bilangan acak antara 0 dan 1, padahal kebanyakan kita butuh bilangan acak berupa integer.

Untuk pembangkitan antara nilai minimum m dan nilai maksimum n kita bisa pakai:
[code]floor((n-m+1)*rand+m)[/code] atau [code]ceil((n-m)*rand+m)[/code]

Cluster Beowulf di Lab

Hari ini aku dapat pinjaman (ke lab) 6 unit board+procie i3 540 (generasi i3 pertama-tama kalo ga salah). Bakalnya set komputer ini masuk ke sistem cluster Beowulf garapan tiket lulus nanti untuk menambah 10 unit e7500 yang memang aset lab.

[caption id="attachment_717" align="alignnone" width="300"]itu ngarep apa pengen? bayu sama si cluster[/caption]

Sistem cluster Beowulf ini bakal melakukan komputasi numerik tertentu yang punya strategi: makin banyak, makin ramai, makin seru! Cuma mengandalkan beberapa utilitas di Linux: NFS, OpenSSH, OpenMPI.

[caption id="attachment_718" align="alignnone" width="225"] she's majestic, isn't she?[/caption]

Set komputer ini dapat pinjam dari Pak Waru dan Pak Aswin. Terima kasih buat Beliau berdua, saya bakal berusaha pakai komputernya sebaik-baiknya.

Rocks Cluster

Rocks adalah distribusi sistem operasi Linux yang digunakan untuk membangus cluster komputer kelas beowulf. Distro ini merupakan turunan CentOS sehingga masih serumpun dengan Fedora, RHEL dan teman-temannya.

rocks

Distro ini dilengkapi berbagai utilitas manajemen cluster, terutama insert-ether untuk menambah node cluster dan rocks yang berwujub skrip python yang digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas manajemen cluster. Ada juga ganglia untuk monitor aktivitas cpu, memori dari front-end dan tiap-tiap node.

Karena keterbatasan perangkat keras, clusternya malah diimplemtasikan di virtual machine. Jadinya ga ada peningkatan performa, adanya overhead gara-gara scheduling dan emulasi di KVM-QEMU, duh. :(

Laporan implementasi bisa disimak di kaitan ini: Cluster dengan Rocks Cluster

Proxmox VE

Proxmox VE adalah distribusi sistem operasi [GNU/]Linux derivat dari Debian yang memfokuskan penggunaanya sebagai host virtual machine. Kita diberi dua pilihan hipervisor: [qemu-]KVM untuk virtualisasi sampai level abstraksi prosesor, atau OpenVZ yang berbasis kontainer (jadi pilihan bagus kalau node virtual machinenya berbasis Linux dan mirip-mirip).

proxmox

Perangkat keras yang diperlukan mewajibkan prosesor dengan akselerasi virtualisasi (Intel VMX atau AMD VI/VT, atau apalah). Sempat dicoba di bare metal macam IBM X3650 M3 dengan performa yang memuaskan.

Kelebihan distro ini adalah ukuran instalasi yang kecil, setup yang mudah dan cepat, manajemen berbasis web yang intuitif.

Kelemahannya berada di manajemen partisi pra-install yang sudah ditetapkan (baca: tidak disarankan untuk dikustomisasi), manajemen jaringan host virtual machine yang kurang dinamis untuk operasi on the fly, dan model snapshot node virtual machine yang kadang tidak berjalan semestinya.

Tapi secara keseluruhan: wajib dicoba kalau mau main vm.

Berikut laporan dari saya main-main: Virtual Machine dengan Proxmox.

Kontemplasi Mahasiswa Lama dan Kuliah Baru

Apa itu "ikhlas"?
Buatku ikhlas: gemar, jujur, berniat baik, dan menghargai hal-hal di sekitar kita secara substansial.


Saat mahasiswa semester akhir dihadapkan terhadap kuliah unutuk semester pertama--entah dengan alasan apa--ada ceceran nilai-nilai filosofis yang dulu tercecer, yang sekarang harusnya bisa dicerna lagi lebih dalam.

--belum selesai

Materi Training PKK 2012: Qt

Materi ini tentang pemrograman ber-GUI dengan Qt yang jadi salah satu isi training Pelatihan Ketrampilan Komputer di Laboratorium Informatika dan Komputer Teknik Elektro semester kemarin.


Qt adalah framework pemrograman berorientasi objek yang ber-GUI (ga pakai gui sih oke-oke aja sebetulnya) yang cross-platform, pendekatannya: mudah dan jelas. Intinya harus disiplin dan efesien dalam desain dan implementasi class-nya. Qt menggunakan bahasa C++ (pakai compiler g++ atau Visual C++) dengan binding berbagai bahasa: Java, perl, Ruby, dan segala macam (tapi dengan paket software terpisah).

Anyway, enjoy!
Link materinya di sini.
Source code yang terlibat di sini.

Checksum: CRC, MD5

Nah, bahasannya kali ini tentang checksum: metode yang digunakan untuk mengambil sebuah "identitas" dari sebuah unit data.

Yang pertama dibahas CRC, algoritma ini menggunakan operasi XOR secara siklis terhadap masing-masing bit dari data dengan kunci tertentu. Karena kesederhanaannya, metode CRC bahkan jamak diterapkan di perangkat keras.

Selanjutnya MD5, fungsi hash ini sudar tersohor, deh! Banyak dipakai di mana-mana. Mulai dari hash buat simpan password, hash buat mencatat bahwa file tidak berubah setelah download, hash buat tulis puisi cinta (nah, masa ada?).

Anyway, makalahnya di sini.

Klasifikasi Enkripsi

Makalah ini buat kuliah Keamanan dan Integritas Data. Isinya tentang klasifikasi algoritma enkripsi.

Sederhananya, algoritma enkripsi dibagi jadi 2: simetris (proses enkripsi dan dekripsi menggunakan kunci yang sama), asimetris (proses enkripsi dan dekripsi menggunakan kunci yang berbeda).

Algoritma enkripsi simetris ya itu-itu aja caranya (sok pinter mode=on, hehe) karena kunci untuk enkripsi dan dekripsi sama. Sementara algoritma enkripsi asimteris dibagi jadi 3:
- dienkripsi dengan kunci publik lalu didekripsi dengan kunci privat,
- dienkripsi dengan kunci privat lalu didekripsi dengan kunci publik,
- dienkripsi dengan gabungan kunci publik dan privat dari dua pihak berbeda; lalu didekripsi dengan gabungan kunci komplemennya.

Makalahnya bisa disimak di sini.

Enkripsi Genap Ganjil

Buat kuliah Keamanan dan Integritas Data, aku bikin algoritma enkripsi klasik. Dasarnya dari Julian chiper dengan dua pool dan dua variasi "gerakan" key berdasarkan jumlah genap/ganjil dua byte yang akan diubah. Singkat cerita kurang lebih begitu, lah.

Makalahnya bisa dibaca di sini.

Kuliah buat Kerja?

Waktu itu ada yang bilang begini sama aku, "Kita itu kuliah buat kerja, kerja cari uang, beli ini-itu, menikah" saat acara makan bersama dari anggota laboratorium tempat saya 'bermain'. Di kesempatan lain beliau (orang yang sama) mengomentari keinginan hidup saya: tentang bekerja sebagai engineer (beneran), earning money from certain--specific purposes, and such.

Beliau juga mengatakan tentang bagaimana kita harus patuh terhadap prosedur kerja, walaupun beberapa bumbu inovasi kecil mungkin dapat membuat hal-hal menjadi lebih menarik. Juga kutipannya berbicara mengutip managernya, "Kamu ga kerja di sini juga kita ga bakal rugi."

Kutipan terakhir tersebut membuat saya (sedikit) sakit hati. Menurutku setiap orang dengan kondisinya masing-masing, kelebihan dan kekurangan masing-masing, mempunyai tempat spesialnya masing-masing. Pencapaian setiap orang tidak harus sama, bahkan harus tidak sama. Lingkungan kita bekerja (nanti) harusnya menghargai kita semestinya, tidak hanya dengan upah yang sesuai, namun juga penghargaan saat kita melakukan sesuatu buat mereka (dan diri kita sendiri) dan koreksi saat kita membuat kekeliruan.

Kerja buatku tidak hanya sekadar mendapat penghasilan, namun juga mengembangkan diri, mengeksplorasi kemampuan dan kemungkinan, mencari rekan dan menjaga kerpercayaan yang diberikan. Kalau kamu?

NAS.ub auto-login (webauth)

Baru-baru ini (mulai akhir Januari) di UB dipasang mekanisme login melalui web yang baru untuk RADIUS yang menggantikan yang lama (yang biru-putih itu).

Ada beberapa kekurangan yang pada antarmuka web yang baru ini:
- ga pakai SSL (mana sertifikatnya?),
- ga ada fungsi hash,
- isinya cuma plain text,
- interval sesi yang terasa terlalu cepat (berapa menit sih sebenarnya? atau aktivitas?),
- ga ada logo UB-nya (d'oh!),
Kesimpulannya: ndak mbois, blas!

Menanggapi kejengkelan tersebut, aku iseng-iseng bikin skrip auto-login biar bisa ninggal komputer download sampai besoknya. Pendekatannya sederhana: tangkap paket waktu login, duplikasikan secara periodik dengan shell/batch script.

Untuk mendapatkan bentuk paket, aku pakai wireshark, harusnya segera dapat paket HTTP dengan bentuk semacam ini:

POST /webAuth/ HTTP/1.1
Host: nas.ub.ac.id
User-Agent: Mozilla/5.0 (X11; Linux x86_64; rv:13.0) Gecko/20120313 Firefox/13.0a1
Accept: text/html,application/xhtml+xml,application/xml;q=0.9,*/*;q=0.8
Accept-Language: en-us,en;q=0.5
Accept-Encoding: gzip, deflate
Connection: keep-alive
Referer: http://nas.ub.ac.id/webAuth/
Content-Type: application/x-www-form-urlencoded
Content-Length: 62

username=--nimku--&password=--passwordku--&pwd=--passwordku--&secret=true


Paket tersebut tinggal disimpan jadi file dengan menu "Save as" di wireshark :) Trim header-header dari enkapsulasi (aku pakai dd) sampai jadi paket HTTP-nya.

Nah, setelah punya file yang berisi paket tersebut kita bisa kirim secara periodik. Aku gunakan nc (netcat) untuk manipulasi socket-nya. Aku buat shell script:
#!/usr/bin/bash
while [ 1 ];
do cat paket-login | nc nas.ub.ac.id 80;
sleep 500; # 500 detik
done;

--buat sistem operasi Windows pakai skrip batch, yah. aku ga bisa jelasin, deh

Langkah terakhir, berdoa semoga skripnya bisa jalan sesuai yang diinginkan :)

Distribusi Diskrit Bilangan Acak dari /dev/urandom

Ini makalah untuk tugas matakuliah Probailitas dan Statistika yang aku tempuh semester ini. Isi makalah membahas sifat distribusi dari bilangan-bilangan yang dibangkitkan dari file /dev/urandom di sistem operasi berbasis Linux.

Buat yang penasaran bisa baca di sini.

---disusun oleh Zulhaj Aliyansyah dan Gian Giovani

Progam Visual Komurindo 2011 E-FLY 63

Nah, berhubung programnya sudah obsolete dan (tampak) ga bakal jadi bahan gunjingan aku upload, deh.

Sistem yang dipakai:
- Linux (kalau ga salah dulu pakai Zenwalk 6.4, deh),
- Qt 4.6,
- qwt pre 6 (aku coba compile pakai qwt 6 udah ga bisa--QwtCompass-nya udah beda).

Pembacaan dari serial com pakai operasi I/O standar glibc, karena waktu itu malas pakai qextserialport (baru official masuk Qt 5) trus butuh eksekusi yang efesien. Kodenya jadi gado-gado, tuh.

Buat aplikasi widget fotonya sih fail, belum nemu manipulasi pixmap yang bisa gegas updatenya (apa aku yang kopok, yah?)

Download di sini buat kodenya. Maaf ga ada screenshot, atau apa--udah kehapus semua dokumentasinya :(

Artifisial Sistem Daya?

Sebetulnya sudah cukup lama aku mau post hal ini, tapi urung karena sebab-sebab yang kurang jelas.

"ASD" (a-es-de) dari dahulu (sebelum perubahan kurikulum di Elektro) sudah menjadi singkatan untuk dua mata kuliah berbeda:
- Algoritma dan Struktur Data,
- Analisis Sistem Daya (I dan II).
Nah, begitu pula candaan: **Algoritma Sistem Daya** (lol). Sementara "Analisis Struktur Data" adalah frasa yang cukup logis sehingga tidak jadi bahan candaan.

Sejak kurikulum baru diterapkan, hal yang lebih aneh terjadi:

"Artifisial Sistem Daya", oh no! Nama matakuliah aslinya adalah "Artificial Intelligent dalam Sistem Daya", tapi kalau ditulis setengah hati gini kok jadi lucu, yak.

Lab Pro[sessing]?

Baru sadar kalau label salah satu laboratorium di Elektro kurang tepat ejaannya. See:


Seperti yang lain, "Endonesian Engrish".

Laboratorium yang dimaksud adalah Laboratorium Bengkel Elektronika, entah mengapa lebih sering disebut sebagai "Laboratorium Proses" (padahal ga tahu proses apa?). Tapi kalau ditulis "Lab. Prosessing" semacam kurang cocok atau apa, ya? Andai ditulis dengan bahasa Inggris, Device and IC Processing Lab tentunya lebih tepat.