Tampilkan postingan dengan label baca-rasa-pikir-tulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label baca-rasa-pikir-tulis. Tampilkan semua postingan

Netizen tercerahkan #5

Dalam proses pendidikan itu mestinya juga bicara tentang integritas, kepantasan, tanggung jawab, kehormatan, kejujuran, konflik kepentingan, rasa malu, dan penghormatan terhadap kebenaran. Tidak semuanya bisa dituangkan menjadi pasal. Dan ketika sesuatu yang seharusnya hidup sebagai kesadaran moral hanya dipindahkan menjadi kepatuhan administratif, manusia bisa menjadi sangat patuh sekaligus kehilangan integritas. 

--Endah 'deyang14' Nurdiana, disadur dari diskusi amicus curiae di sini

batik gemini

 

Mbak baju biru ganti jariknya motif kawung, Mbak merah ganti jarik motif madura 

Gemini, oh, gemini 

Izin kagem Mas Erik Budi Santiko yang fotonya kami permainkan.

Voice of Baceprot: Enter Sandman


Saya mbrebes mili dengerinnya.

Netizen tercerahkan #3

Being born is a blessing. Growing old is a privilege. Growing old together is a blessed privilege. Growing old together with your Soulmate is a privileged blessing.

--leapinghorse 

Netizen tercerahkan #2

 Kalau semua tergantung pada satu orang, itu bukan kehebatan. Itu kelalaian.

--awpramono 

machine learning

Machine learning tanpa pattern recognition itu quacky obfuscation.

 

mengko daklanjut neh... 

Apatah guna ini semua?

 

Follow, like, and star! https://github.com/jendralhxr/cursive-scribe/

Indonesia belum sepenuhnya tercerahkan

 

Saya baca komentar Warga Indonesia di sini: kita semacam darurat baca, kita yang sudah baca macam kurang doa, kita yang sudah sudah doa macam kurang mendoakan yang lain.

(menyambut Hari Kesaktian Pancasila, Pancasila yang sebagai warga Indonesia kita bela sebagai nilai-nilai kemanusiaan semestinya)

One liner shell of the day : #50 (download film dari m3u8 yang betebaran di luaran)

ffmpeg -protocol_whitelist file,http,https,tcp,tls -i plelist.m3u8 -c copy output.mp4 

playlist-nya bisa dicari dari aktivitas network di peramban. saya baru nonton kimi-no-na-wa

Hidup itu milik Tuhan

Discovered this life documentary series, hit hard.

Quote Khutbah Jumat: #3

 

(dengan kutipan bebas)

Karena transendesi Tuhan, kita tidak bisa mendekati-Nya. Yang kita bisa [dalam usaha mendekati Tuhan] adalah baca sabda-Nya dalam bentuk Quran.

Masjid BRIN Cisitu, 2024-02-08

Quote Khutbah Jumat: #2

Orang yang baik adalah orang yang bermanfaat, buat diri sendiri, keluarga, dan sebegalamacem lingkungan.

Masjid BRIN Cisitu, 2024-02-16

Quote Khutbah Jumat: #1

Lidah kita yang sudah ratusan-bahkan ribuan kali baca bacaan al-Quran, tapi kok masih ngomongin orang, berarti ada yang salah dengan bacaan kita.

Masjid BRIN Cisitu, 2024-02-02

musik Indonesia

Ghea Indrawari yang Kangen-nya sungguh menyentuh bisa aja ndak lulus.

Ini antara budaya menulis di Indonesia kelewat kritis, manajemen artis yang kelewat nyuruh rekaman/konser terus, lingkup akademis yang kurang dinamis, atau memang Indonesia ini ndak ngerti musik?

Dilihat dari SKS yang sudah ditempuh, nampaknya coursework Ghea sudah selesai (bisa jadi ada mata kuliah yang lulus tidak optimal, sih). Ada beberapa mata kuliah yang hendak diulang dan skripsi yang tidak kunjung sidang.

Tapi begini, zaman Mbah Raden Koesbini musik bisa ditulis yang sesuai dengan konteks sosial saat itu, menggugah hati, dan masyarat ngerti. Di samping itu Beliau juga ngajar di (proto)- ISI Jogja dan sanggar olah seni di tempat sendiri, ada siswanya yang belajar di situ dalam kerangka pendidikan formal. Beliau juga nulis buku sebagai outlet kecendikiaan, masih tetap nulis lagu dan tampil juga sebagai outlet artistik Beliau.

Cerita Ghea ini sangat disayangkan sekali. Musik yang dia nyanyikan, orang Indonesia ngerti dan suka. Sakjane mung kari nulis wae paling. Kalau karya dia direkam dalam korpus pendidikan, paling tidak generasi penggiat seni di esok hari bisa menilik kembali karya manusia Indonesia tentang seni musik ini. Bisa menginspirasi dengan model rujukan yang punya rekam kepustakaan. Lek ngene, paling cuma kita cuma bisa dengerin Ghea di Youtube, Spotify, Soundcloud. Kalau service-nya sudah ndak rame, pudar nanti. Semuanya bakal pudar, sih. Tapi agak sedih juga kalau semuanya sekadar kontemporer.

Walaupun kembali gini juga ndak bisa dipaksa. Kendala kuartet-partit uang-bakat-minat-kontrubusi (ala Ikigai) yang dialami Ghea waktu kuliah ya ndak semudah saya nulis tulisan ini bisa diselesaikan.

macak ngerti nihonggo

橋は場所をつなぎ、思いやりは人をつなぐ。

Andang Bachtiar dan Penyelaras: Ngalam Apa Kabar?


Bait pertama dari liriknya bilang (saya tambahi sisipan iseng-iseng supaya tiap baris semakin harmonis dalam kalimat kompleks):

Ini kota limpahan cinta

[berbentuk] breksi, lava, pasir, dan tuffa

[yang] lapuk luruh menjadi tanah

[di?] dataran tinggi subur merekah

Kalau pengaruh geologis bisa [dibuktikan] meninggalkan kesan etno-sosio-psikologis;  terjepitnya Malang di antara pegunungan Jawa Timur membuat bentuk kasih sayang yang sesekali meletup kemudian diiringi proses peluruhan (kontemplasi) yang jauh lebih panjang. Barulah kemudian kebaikan/kesuburan bisa kita tuai.

Ada bait kemudian:

Di sini Mala angkusa Iswara

Di sini Angkara dihancurkan Kuasa

Keburukan/kebengisan/kejahatan dihancurkan/dimusnahkan dengan/oleh Ketuhanan/kekuasaan. Manifestasi harmoni dalam framework Malang adalah kekuasaan yang bisa sewenang-wenang menghancurkan keburukan. Di Singasari (Malang), Shiva adalah Bathara Guru. Kebijaksanaan dirupakan menjadi penghapusan hal-hal yang tidak pantas lagi eksis, kebaikan bukan (cuma) tentang cipta dan nurture, tapi acap kali juga tetang kehilangan dan eksterminasi. Terdengar sadis? Sejatinya ini semua alami, kok.

Nah, bagaimana mengidentifikasi mala/angkara dan tidak asal main jadi kuasa/iswara ini yang perlu didalami manusia yang di dalam gennya terpercik sequence ke-Malang-an; sejatinya kita semua, sih.


ndak mau rugi

 إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ 

 

 

Tuhan itu Adil tapi bukan baik

Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih,
kasih itu dicoba saat kita sedih.
Layaknya merendah, menghimpun, mendekap, melindung.

Dengan nama Tuhan yang Maha Penyayang
sayang itu dicoba saat kita gembira.
Tidak laiknya sombong,
tidak laiknya berbohong.

Dengan nama Tuhan yang Maha Adil,
karena keadilan bukan tentang membela korban,
[karena keadilan] bukan tentang mengungkung pelaku,
[sebab] sejatinya kita semua semua adalah juga pelaku dan juga korban.
Keadilan itu tiada memihak,
Tuhan menjanjikan kebaikan dan kehormatan untuk kebaikan,
hukuman dan hinaan untuk kekejian.
 
[Sementara Tuhan tidak menyebut diri-Nya maha baik--dalam tataran makhluknya,
karena kebaikanNya sudah absolut.]

Dengan nama Tuhan yang Maha Tahu,
hanya sedikit yang kita tahu,
lebih sedikit lagi yang kita mengerti.
Tuhan yang Lebih Tahu atas segalanya.
 
Dengan nama Tuhan yang Maha Kuasa,
sungguh tiada kemampuan kami kecuali dengan restu-Mu

Dengan nama Tuhan yang Maha Damai,
karena rukun adalah harmoni dalam dinamika,
yang selalu seimbang walau tidak setimbang.


Saya: Sunni, Syi'i, Mu'tazili

Saya pernah bilang bahwa saya:
- secara spiritual: sunni,
- secara kultural:  syi'i,
- secara idelogis: mu'tazili.

Pernyataan ini dari mana juga agak aneh: (1) mengapa beberapa denominasi/garis Islam yang macam-macam saya [sok] sematkan ke diri saya sendiri sementara ada yang punya penafsiran bahwa beragama itu kudu totalitas (red, kaffah). 

Agama itu, kompleks. 

Saat ditanya Pak Suhe, "Apa artinya [dari pernyataan saya tersebut]?"; saya sambil setengah bingung sendiri jawab bahwa bentuk Islam itu macam-macam, beragam, dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya yakin betul bahwa Islam (dan agama apapun juga) itu dinamis, tidak monolitik, multi-faceted, dan pengejawantahannya dalam bentuk kemanusiaan selalu terikat dengan faktor kebudayaan yang lain di masyarakat tersebut.

Keanehan yang lain (2) bisa ditarik dari trikotomi Islam di akhir era khilafah Rasyidin: pergolakan politik di Arab saat itu saat Perang Saudara Islam pertama yang ada: Sunni, Syi'i, dan Khawarij. Sementara Mu'tazili biasanya diseterakan dengan Ash'ari, Atsari, Maturidi sebagai yang perbedaannya lebih ke pemahaman ke-Tuhanan (bahasan keakidahan utamanya tentang personifikasi Tuhan, Quran, dan dosa). Trikotomi sunni-syi'i-khawarij lebih bernuansa politis, utamanya saat tampuk konfederasi Arab Islam saat itu pecah: Muawiyah-Alid-Fatimid.

Karena Mu'tazili tidak banyak memiliki konsekuensi politis ketimbang Khawarij.

Walau عزل dan خرج  sama-sama punya kesan anti-mainstream atau non-konformis, Mu'tazili bermain di filsafat ketuhanan dibandingkan gerakan politik praktis. Ada yang bilang bahwa filsafat arus ini terinspirasi gaya Yunani kuno. Guess what, Arab pra-Islam dengan latta-uzza-manah-ghubal ini juga padanan sinkretis dewa/dewi Greko-Roman. Lingkungan munculnya Islam saat itu juga tidak terlepas dari budaya di sektiarnya.

Saat ditanya lagi apakah saya muslim? Jawab saya: tidak yakin. Sejatinya saya yakin betul bahwa saya dibesarkan di lingkungan sosio-kultural Islam Indonesia: baris agama di KTP saya bertuliskan Islam, nikah saya dicatat di KUA Lowokwaru di arsip bagian Islam, saya masih nglubak-glubuk shalat; tapi sejatinya saya ndak yakin apa benar saya sudah mencukupi batas ambang minimal klasifikasi kita sebagai "muslim" sesuai di deskripsi di Quran. Kalau Pak Amin bilang, cukuplah kita disebut orang Islam.

Rasanya ndak sedikit orang-orang yang disemati identitas sebagai orang Islam juga punya pendekatan yang sedikit-banyak bersamaan dengan pandanagan saya tentang Islam. Kan, ya?

Sampai sini, beragama itu bukan tentang menentukan demarkasi lingkup sosio-kultur-spiritual; kadang beragama itu sekadar cukup bagaimana falsafah dan identitas yang tersematkan ke diri kita menjadikan manusia yang compassionate, beneficent, dan merciful.

PS: di hari Rabu pertama waktu saya SD, di kelas yang disebut Penanaman Akidah Pagi, hadits yang dibahas: النظافة من الإيمان yang punya sanad lebih syi'i ketimbang sunni.

apa kita perlu Tuhan?

Diskusi Noel dan Rifan ini rasanya relevan buat beragam orang, Boy.

Keterbatasan pendekatan empiris/ilmiah terhadap Tuhan menyebabkan beberapa orang yang tidak bisa menggapai [konsep] Tuhan. Tuhan selama ini kita hanya dekati melalui bentuk sastra, ketokohan, iman, dan nilai-nilai kemanusiaan (seperti yang Rifan contohkan).
 
Narasi surga dan neraka, walau dapat kita temukan dalam kanon berbagai agama, masih belum ada bukti persaksian yang cross-verifiable: makhluk-makhluk di surga-neraka dan tidak di surga-neraka bisa saling berinteraksi secara reliably dan repeatably. Kalaupun ada yang katanya bisa, kadang kita labeli klenik, dukun, supranatural, wali, dan lainnya.

Secara praktis kita bisa saja menjadi orang yang baik, rukun, etis, harmonis, kinyis-kinyis tanpa berpegang pada konsep-konsep di sekitar ketuhanan dan dogma-dogma lain dalam lingkup agama. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, agama --sebagai kompilasi budaya kemanusiaan-- memberikan kerangka bertindak yang good enough.

Yah, namanya juga agama itu diemban dengan iman. Yang hendak beragama, beralih agama, atau mengukuhkan [kembali] agamanya, tentunya ada rasa bergolak naik-turunnya iman. Kalaupun Tuhan tidak terjelaskan buat kita, rasanya beriman kepada kemanusiaan juga ndak buruk. Walau narasi agama saya bilang bahwa Tuhan adalah Raja Kemanusiaan juga :)