Discovered this life documentary series, hit hard.
Hidup itu milik Tuhan
Quote Khutbah Jumat: #4
Shalat itu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.
Kalau masih ada yang berbuat keji dan mungkar, padahal shalat, berarti sholatnya kurang genep.
Quote Khutbah Jumat: #3
(dengan kutipan bebas)
Karena transendesi Tuhan, kita tidak bisa mendekati-Nya. Yang kita bisa [dalam usaha mendekati Tuhan] adalah baca sabda-Nya dalam bentuk Quran.
Masjid BRIN Cisitu, 2024-02-08
iman dan cewek cakep
Pengalaman saya jauh dari istri selama beberapa waktu membuat saya berpikir saat lihat cewe-cewe cakep yang berseliweran di Bandung. Seperti koempoel gebouw dan nikah, yang bedakan cuma framework keimanan saja.
Kalau orang [Islam] beriman, dia ingat hadits انَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
Kalau tidak beriman, jadilah dia penjahat kelamin.
Quote Khutbah Jumat: #2
Orang yang baik adalah orang yang bermanfaat, buat diri sendiri, keluarga, dan sebegalamacem lingkungan.
Masjid BRIN Cisitu, 2024-02-16
ndak mau rugi
إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
Tuhan itu Adil tapi bukan baik
Saya: Sunni, Syi'i, Mu'tazili
Saya pernah bilang bahwa saya:
- secara spiritual: sunni,
- secara kultural: syi'i,
- secara idelogis: mu'tazili.
Agama itu, kompleks.
Saat ditanya Pak Suhe, "Apa artinya [dari pernyataan saya tersebut]?"; saya sambil setengah bingung sendiri jawab bahwa bentuk Islam itu macam-macam, beragam, dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya yakin betul bahwa Islam (dan agama apapun juga) itu dinamis, tidak monolitik, multi-faceted, dan pengejawantahannya dalam bentuk kemanusiaan selalu terikat dengan faktor kebudayaan yang lain di masyarakat tersebut.
Keanehan yang lain (2) bisa ditarik dari trikotomi Islam di akhir era khilafah Rasyidin: pergolakan politik di Arab saat itu saat Perang Saudara Islam pertama yang ada: Sunni, Syi'i, dan Khawarij. Sementara Mu'tazili biasanya diseterakan dengan Ash'ari, Atsari, Maturidi sebagai yang perbedaannya lebih ke pemahaman ke-Tuhanan (bahasan keakidahan utamanya tentang personifikasi Tuhan, Quran, dan dosa). Trikotomi sunni-syi'i-khawarij lebih bernuansa politis, utamanya saat tampuk konfederasi Arab Islam saat itu pecah: Muawiyah-Alid-Fatimid.
Karena Mu'tazili tidak banyak memiliki konsekuensi politis ketimbang Khawarij.
Walau عزل dan خرج sama-sama punya kesan anti-mainstream atau non-konformis, Mu'tazili bermain di filsafat ketuhanan dibandingkan gerakan politik praktis. Ada yang bilang bahwa filsafat arus ini terinspirasi gaya Yunani kuno. Guess what, Arab pra-Islam dengan latta-uzza-manah-ghubal ini juga padanan sinkretis dewa/dewi Greko-Roman. Lingkungan munculnya Islam saat itu juga tidak terlepas dari budaya di sektiarnya.
Saat ditanya lagi apakah saya muslim? Jawab saya: tidak yakin. Sejatinya saya yakin betul bahwa saya dibesarkan di lingkungan sosio-kultural Islam Indonesia: baris agama di KTP saya bertuliskan Islam, nikah saya dicatat di KUA Lowokwaru di arsip bagian Islam, saya masih nglubak-glubuk shalat; tapi sejatinya saya ndak yakin apa benar saya sudah mencukupi batas ambang minimal klasifikasi kita sebagai "muslim" sesuai di deskripsi di Quran. Kalau Pak Amin bilang, cukuplah kita disebut orang Islam.
Rasanya ndak sedikit orang-orang yang disemati identitas sebagai orang Islam juga punya pendekatan yang sedikit-banyak bersamaan dengan pandanagan saya tentang Islam. Kan, ya?
PS: di hari Rabu pertama waktu saya SD, di kelas yang disebut Penanaman Akidah Pagi, hadits yang dibahas: النظافة من الإيمان yang punya sanad lebih syi'i ketimbang sunni.
apa kita perlu Tuhan?
Secara praktis kita bisa saja menjadi orang yang baik, rukun, etis, harmonis, kinyis-kinyis tanpa berpegang pada konsep-konsep di sekitar ketuhanan dan dogma-dogma lain dalam lingkup agama. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, agama --sebagai kompilasi budaya kemanusiaan-- memberikan kerangka bertindak yang good enough.
Yah, namanya juga agama itu diemban dengan iman. Yang hendak beragama, beralih agama, atau mengukuhkan [kembali] agamanya, tentunya ada rasa bergolak naik-turunnya iman. Kalaupun Tuhan tidak terjelaskan buat kita, rasanya beriman kepada kemanusiaan juga ndak buruk. Walau narasi agama saya bilang bahwa Tuhan adalah Raja Kemanusiaan juga :)
printer spritualis
Saya punya sebuah unit printer HP 3520. Kemarin lusa printer ini ngadat ndak mau nyala. Saya coba ganti kabel power, bongkar: cek adaptor, bersihkan mainboard, cek kabel koneksi ke masing-masing modul; hasilnya nihil, printernya tetep ndak nyala. Saya beberes printer ini sambil bolos tarawih karena allegedly saya karantina pribadi setelah perjalanan luar negeri.
Ajaibnya, pagi ini saya shalat dhuha sehabis mandi pagi (saya sih ndak religius-religius banget, cuma biar kelihatan keren aja shalat sekali dua kali); si printer ini nyala! Puji Tuhan, printernya nyala.
Awalnya display agak tidak stabil dan cartridge tidak terdeteksi, yang segera bisa diperbaiki dengan membersihkan kontak kabel fleksibel (ada satu kontak yang hampir patah). Begini ini antara fitnah kesaktian atau berkah shalat. Akhirnya saya ndak harus beli lagi walau malamnya sudah pesan secara online (walau belum dibayar).
Printer HP terkenal gampang dibongkar dan diservis, atau paling engga dilakukan diagnosis apanya yang kenapa-kenapa.
Indonesia kok "dangkal"
Tanah air saya, yang saya ingat, adalah negeri yang compassionate.
Saya ingat ada bapak-bapak yang tidak sakit hati saat saya jatuh gedebrak ke pintu depam kiri mobilnya waktu pedal saya kecantol.
Saya ingat ada mas-mas yang nawarin saya nginep di rumahnya waktu saya ndak pegang duit dan jalan puter2 dekat bandara malam-malam.
Saya ingat ibu-ibu yang masih menjualin saya lepas saya kesandung di etalase tokonya sampai kacanya pedtjah.
Saya ingat ndak bayar ongkos pijet waktu pijet refleksi habis jatuh dari sepeda.
Sungguh saya banyak salah sama orang-orang, tapi kebaikan Beliau-beliau semua is just beyond what your usual pragmatism expects.
Tapi saya nonton komentar manusia Indonesia di dunia maya kok sesek, ya. Mayoritas sumbu pendek, terkesan tidak dalam, membebek, mudah digiring. Kita belum sampai kepada kesimpulan secara bersama, tulisan-tulisan yang disampaikan kok macam ditujukan untuk membuat orang lain sakit hati.
Pluralisme, dari Islam, di Indonesia
Saya sedari awal kurang setuju dengan definisi "pluralisme" yang dijabarkan di artikel ini. Salah satu definisi yang lebih sekular, ndak baper, berkesan berkecendikiaan; ada yang semacam: paham yang menghargai adanya perbedaan dalam suatu masyarakat dan memperbolehkan kelompok yang berbeda tersebut untuk tetap menjaga keunikan budayanya masing-masing. Menganggap semua agama sama, memadan-madankan tuhan yang satu dan lainnya adalah sinkretisme, bukan pluralisme.
Dalam tataran ketidakagamaan, pluralisme bisa dicontohkan begini: tidak semua mobil di Indonesia harus Xenia walaupun Xenia adalah mobil sejuta umat di Indonesia belakangan ini. Pengguna mobil juga boleh pakai Avanza, Innova, Carry, Hijet, Kijang kapsul 1990, Civic Fiero 1997, truk Hino, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang tidak punya mobil, naik sepeda, jalan kaki, pakai angkot/bus.Tentunya tiap kendaraan punya spesifikasi masing-masing, efisiensi dan dan kenyamanan yang berbeda-beda, ukuran mesin yang berbeda, dan berbagai perbedaan lainnya.
Dalam tataran keagamaan, kita bisa contohkan pluralisme: masing-masing umat yang bertindak baik (dalam koridor agamanya masing-masing) laiknya diberi imbalan yang baik oleh tuhannya masing-masing; sementara kita tidak bisa langsung membuktikan ketidakabsahan imbalan dari Tuhan tersebut; atau bagaimana keberadaan Tuhan sendiri.
Tapi, mengutip Kakak saya: bahwa kasih sayang yang luhur pada saudara yang berlainan iman adalah menunjukinya jalan yang kita bersama-yakini benar. Tentunya bukan persuasi yang mudah.
mohon ampun
Tuhan, saya ndak pinter...
tapi mohon kalau pas saya pinter, ada manfaatnya.
Doa Nasionalis
Mumpung lagi peringatan Hari Proklamasi Indonesia, tulis-tulis, la.
Di musim Agustusan ini, saya jadi lebih sering dengar doa ini:
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
(Kahf: 10)
Tuhan kami, datangkan pada kami (sebagian) rahmat dari sisiMu dan siapkan kami dari urusan/masalah kami sebuah jalan/solusi yang lurus.
Di Indonesia, doa ini turut dipopulerkan oleh Gus Dur keempat; kata Beliau washilahnya dari Sunan Ampel. Kalau ada ceramah di momen kenegaraan, Beliau biasanya menutup ceramahnya dengan dota ini. Pak Tri biasanya juga gitu, sih. Hehehe.
Ayat ini turun atas ketidakpuasan sekelompok orang atas pemerintahan di tempat mereka tinggal. Mereka memutuskan untuk mengungsi ke dalam gua: berdoa, ngetem, tidur(?), sampai pemerintahan tersebut berganti. Doa ini dihaturkan sebelum mereka mengungsi, berharap rahmat (cinta Tuhan buat kita dalam kondisi yang susah dan tidak mengenakkan) dan minta dipersiapkan untuk konklusi krisis tersebut dengan jalan yang tidak memancing lebih banyak kerumitan. Saya tentunya bukan ahli tafsir, tapi kira-kira begitu, lah. Pean juga bisa puter-puter sendiri maknanya dari terjemah bebas tersebut.
Mengungsi, menjauh, lari dari masalah; nampak pengecut, pasif, tidak menyelesaikan masalah, tidak pro-aktif, tidak solutif. Tapi cuma beginilah yang rakyat di kondisi yang tertekan bisa lakukan: berdoa, belaku baik secara mandiri, bertahan hidup sekenanya sendiri. Dewasa ini kita juga banyak ndak terima sama pemerintah Indonesia: yang banyak hutang negara, banyak korupsi, birokrasi banyak pungli, banyak pencitraan. Bentuk nasionalisme kita sebagai rakyat--selemah-lemahnya--berdoa begini, berusaha sekenanya. Kita bisa au-ah-gelap sama pemerintah, tapi sama Tuhan--sebagai umat beragama--tetap doa, lah.
Sekaligus tentang nasionalisme. ada hadits yang berkaitan:
حب الوطن من الايمان
Cinta negara adalah bagian dari Iman.
Negara di sini apa yang dimaksud? Kira-kira ada beberapa kata berbeda yang digunakan untuk negara di Bahasa Arab
وطن : bangsa, entitas sosial-manusia dari negara
بلد : tanah air, entitas fisik dari negara
دولة : entitas politis dari negara
ولايات : unit kesatuan negara, federasi
Yang kita cintai dan dekap erat ini bangsanya: orang-orang dan budayanya. Tanah tempat kita hidup bisa ganti (seperti kalau jadi emigran macam saya): pengkolan depan Sudimoro sudah ganti ruko, nasi pecel Pasar Blimbing kadang ndak jualan, pohon sawo depan rumah Mbah putri ditebang karena banyak ulat. Entitas politik yang berlaku langsung sama kita juga berganti, unit administrasinya juga begitu: pilihan presiden, pilkada, penempatan kerja, percaturan politik global yang molak-malik.
Tulisan ini tentunya jauh dari genap, tapi ya begini sudah lah, ya.
والله الموفّق إلى أقوم الطّريق
Langkah dan Suaramu
Teriakku akan di hatimu.
Langkahku menarik keretamu.
Diamku saat cenderung kepadamu, kepadaMu.
Suara dan langkahku bukan sempurna,
tapi kau tahu bagaimana Kau ingin benahi.
Aku dengar Tuhan dari suaramu, dalam diamku.
Aku dengar suaramu di naungan Tuhan yang satu.
Aku dengar Tuhan dalam keputusasaan kita,
saat langkah sudah lelah,
saat suara sudah usang.