Andang Bachtiar dan Penyelaras: Ngalam Apa Kabar?


Bait pertama dari liriknya bilang (saya tambahi sisipan iseng-iseng supaya tiap baris semakin harmonis dalam kalimat kompleks):

Ini kota limpahan cinta

[berbentuk] breksi, lava, pasir, dan tuffa

[yang] lapuk luruh menjadi tanah

[di?] dataran tinggi subur merekah

Kalau pengaruh geologis bisa [dibuktikan] meninggalkan kesan etno-sosio-psikologis;  terjepitnya Malang di antara pegunungan Jawa Timur membuat bentuk kasih sayang yang sesekali meletup kemudian diiringi proses peluruhan (kontemplasi) yang jauh lebih panjang. Barulah kemudian kebaikan/kesuburan bisa kita tuai.

Ada bait kemudian:

Di sini Mala angkusa Iswara

Di sini Angkara dihancurkan Kuasa

Keburukan/kebengisan/kejahatan dihancurkan/dimusnahkan dengan/oleh Ketuhanan/kekuasaan. Manifestasi harmoni dalam framework Malang adalah kekuasaan yang bisa sewenang-wenang menghancurkan keburukan. Di Singasari (Malang), Shiva adalah Bathara Guru. Kebijaksanaan dirupakan menjadi penghapusan hal-hal yang tidak pantas lagi eksis, kebaikan bukan (cuma) tentang cipta dan nurture, tapi acap kali juga tetang kehilangan dan eksterminasi. Terdengar sadis? Sejatinya ini semua alami, kok.

Nah, bagaimana mengidentifikasi mala/angkara dan tidak asal main jadi kuasa/iswara ini yang perlu didalami manusia yang di dalam gennya terpercik sequence ke-Malang-an; sejatinya kita semua, sih.


ndak mau rugi

 إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ 

 

 

One liner shell of the day : #46 (install paket pypi hasil nge-build yang sendiri)

Ceritanya saya lagi ngacak-ngacak paket python xlmhg karena versi yang sekarang ini sudah 3 tahun ndak ada update. Ada beberapa kendala tentang reference handling dari cython dan unicode handling yang sudah kelewat lama. Setelah kode diubek-ubek dan compile ulang dengan skrip setup.py itu... saya bingung gimana install ke path user lokal :D Jadinya dimarahin begini:

[Errno 13] Permission denied: 'C:\\Program Files\\WindowsApps\\PythonSoftwareFoundation.Python.3.10_...

Tanya ke mbah google, deh.

 python setup.py install --user

Tuhan itu Adil tapi bukan baik

Dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih,
kasih itu dicoba saat kita sedih.
Layaknya merendah, menghimpun, mendekap, melindung.

Dengan nama Tuhan yang Maha Penyayang
sayang itu dicoba saat kita gembira.
Tidak laiknya sombong,
tidak laiknya berbohong.

Dengan nama Tuhan yang Maha Adil,
karena keadilan bukan tentang membela korban,
[karena keadilan] bukan tentang mengungkung pelaku,
[sebab] sejatinya kita semua semua adalah juga pelaku dan juga korban.
Keadilan itu tiada memihak,
Tuhan menjanjikan kebaikan dan kehormatan untuk kebaikan,
hukuman dan hinaan untuk kekejian.
 
[Sementara Tuhan tidak menyebut diri-Nya maha baik--dalam tataran makhluknya,
karena kebaikanNya sudah absolut.]

Dengan nama Tuhan yang Maha Tahu,
hanya sedikit yang kita tahu,
lebih sedikit lagi yang kita mengerti.
Tuhan yang Lebih Tahu atas segalanya.
 
Dengan nama Tuhan yang Maha Kuasa,
sungguh tiada kemampuan kami kecuali dengan restu-Mu

Dengan nama Tuhan yang Maha Damai,
karena rukun adalah harmoni dalam dinamika,
yang selalu seimbang walau tidak setimbang.


Saya: Sunni, Syi'i, Mu'tazili

Saya pernah bilang bahwa saya:
- secara spiritual: sunni,
- secara kultural:  syi'i,
- secara idelogis: mu'tazili.

Pernyataan ini dari mana juga agak aneh: (1) mengapa beberapa denominasi/garis Islam yang macam-macam saya [sok] sematkan ke diri saya sendiri sementara ada yang punya penafsiran bahwa beragama itu kudu totalitas (red, kaffah). 

Agama itu, kompleks. 

Saat ditanya Pak Suhe, "Apa artinya [dari pernyataan saya tersebut]?"; saya sambil setengah bingung sendiri jawab bahwa bentuk Islam itu macam-macam, beragam, dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya yakin betul bahwa Islam (dan agama apapun juga) itu dinamis, tidak monolitik, multi-faceted, dan pengejawantahannya dalam bentuk kemanusiaan selalu terikat dengan faktor kebudayaan yang lain di masyarakat tersebut.

Keanehan yang lain (2) bisa ditarik dari trikotomi Islam di akhir era khilafah Rasyidin: pergolakan politik di Arab saat itu saat Perang Saudara Islam pertama yang ada: Sunni, Syi'i, dan Khawarij. Sementara Mu'tazili biasanya diseterakan dengan Ash'ari, Atsari, Maturidi sebagai yang perbedaannya lebih ke pemahaman ke-Tuhanan (bahasan keakidahan utamanya tentang personifikasi Tuhan, Quran, dan dosa). Trikotomi sunni-syi'i-khawarij lebih bernuansa politis, utamanya saat tampuk konfederasi Arab Islam saat itu pecah: Muawiyah-Alid-Fatimid.

Karena Mu'tazili tidak banyak memiliki konsekuensi politis ketimbang Khawarij.

Walau عزل dan خرج  sama-sama punya kesan anti-mainstream atau non-konformis, Mu'tazili bermain di filsafat ketuhanan dibandingkan gerakan politik praktis. Ada yang bilang bahwa filsafat arus ini terinspirasi gaya Yunani kuno. Guess what, Arab pra-Islam dengan latta-uzza-manah-ghubal ini juga padanan sinkretis dewa/dewi Greko-Roman. Lingkungan munculnya Islam saat itu juga tidak terlepas dari budaya di sektiarnya.

Saat ditanya lagi apakah saya muslim? Jawab saya: tidak yakin. Sejatinya saya yakin betul bahwa saya dibesarkan di lingkungan sosio-kultural Islam Indonesia: baris agama di KTP saya bertuliskan Islam, nikah saya dicatat di KUA Lowokwaru di arsip bagian Islam, saya masih nglubak-glubuk shalat; tapi sejatinya saya ndak yakin apa benar saya sudah mencukupi batas ambang minimal klasifikasi kita sebagai "muslim" sesuai di deskripsi di Quran. Kalau Pak Amin bilang, cukuplah kita disebut orang Islam.

Rasanya ndak sedikit orang-orang yang disemati identitas sebagai orang Islam juga punya pendekatan yang sedikit-banyak bersamaan dengan pandanagan saya tentang Islam. Kan, ya?

Sampai sini, beragama itu bukan tentang menentukan demarkasi lingkup sosio-kultur-spiritual; kadang beragama itu sekadar cukup bagaimana falsafah dan identitas yang tersematkan ke diri kita menjadikan manusia yang compassionate, beneficent, dan merciful.

PS: di hari Rabu pertama waktu saya SD, di kelas yang disebut Penanaman Akidah Pagi, hadits yang dibahas: النظافة من الإيمان yang punya sanad lebih syi'i ketimbang sunni.

apa kita perlu Tuhan?

Diskusi Noel dan Rifan ini rasanya relevan buat beragam orang, Boy.

Keterbatasan pendekatan empiris/ilmiah terhadap Tuhan menyebabkan beberapa orang yang tidak bisa menggapai [konsep] Tuhan. Tuhan selama ini kita hanya dekati melalui bentuk sastra, ketokohan, iman, dan nilai-nilai kemanusiaan (seperti yang Rifan contohkan).
 
Narasi surga dan neraka, walau dapat kita temukan dalam kanon berbagai agama, masih belum ada bukti persaksian yang cross-verifiable: makhluk-makhluk di surga-neraka dan tidak di surga-neraka bisa saling berinteraksi secara reliably dan repeatably. Kalaupun ada yang katanya bisa, kadang kita labeli klenik, dukun, supranatural, wali, dan lainnya.

Secara praktis kita bisa saja menjadi orang yang baik, rukun, etis, harmonis, kinyis-kinyis tanpa berpegang pada konsep-konsep di sekitar ketuhanan dan dogma-dogma lain dalam lingkup agama. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, agama --sebagai kompilasi budaya kemanusiaan-- memberikan kerangka bertindak yang good enough.

Yah, namanya juga agama itu diemban dengan iman. Yang hendak beragama, beralih agama, atau mengukuhkan [kembali] agamanya, tentunya ada rasa bergolak naik-turunnya iman. Kalaupun Tuhan tidak terjelaskan buat kita, rasanya beriman kepada kemanusiaan juga ndak buruk. Walau narasi agama saya bilang bahwa Tuhan adalah Raja Kemanusiaan juga :)

One liner shell of the day : #45 (git clone snapshot mutakhir)

git clone reponya-yang-mau-disalin-di-sini --depth 1