إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
padahal kitanya yang ndak paham batasan-batasan yang sebenarnaya
إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
Ceritanya saya lagi ngacak-ngacak paket python xlmhg karena versi yang sekarang ini sudah 3 tahun ndak ada update. Ada beberapa kendala tentang reference handling dari cython dan unicode handling yang sudah kelewat lama. Setelah kode diubek-ubek dan compile ulang dengan skrip setup.py itu... saya bingung gimana install ke path user lokal :D Jadinya dimarahin begini:
[Errno 13] Permission denied: 'C:\\Program Files\\WindowsApps\\PythonSoftwareFoundation.Python.3.10_...
Tanya ke mbah google, deh.
python setup.py install --user
Saya pernah bilang bahwa saya:
- secara spiritual: sunni,
- secara kultural: syi'i,
- secara idelogis: mu'tazili.
Agama itu, kompleks.
Saat ditanya Pak Suhe, "Apa artinya [dari pernyataan saya tersebut]?"; saya sambil setengah bingung sendiri jawab bahwa bentuk Islam itu macam-macam, beragam, dan bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Saya yakin betul bahwa Islam (dan agama apapun juga) itu dinamis, tidak monolitik, multi-faceted, dan pengejawantahannya dalam bentuk kemanusiaan selalu terikat dengan faktor kebudayaan yang lain di masyarakat tersebut.
Keanehan yang lain (2) bisa ditarik dari trikotomi Islam di akhir era khilafah Rasyidin: pergolakan politik di Arab saat itu saat Perang Saudara Islam pertama yang ada: Sunni, Syi'i, dan Khawarij. Sementara Mu'tazili biasanya diseterakan dengan Ash'ari, Atsari, Maturidi sebagai yang perbedaannya lebih ke pemahaman ke-Tuhanan (bahasan keakidahan utamanya tentang personifikasi Tuhan, Quran, dan dosa). Trikotomi sunni-syi'i-khawarij lebih bernuansa politis, utamanya saat tampuk konfederasi Arab Islam saat itu pecah: Muawiyah-Alid-Fatimid.
Karena Mu'tazili tidak banyak memiliki konsekuensi politis ketimbang Khawarij.
Walau عزل dan خرج sama-sama punya kesan anti-mainstream atau non-konformis, Mu'tazili bermain di filsafat ketuhanan dibandingkan gerakan politik praktis. Ada yang bilang bahwa filsafat arus ini terinspirasi gaya Yunani kuno. Guess what, Arab pra-Islam dengan latta-uzza-manah-ghubal ini juga padanan sinkretis dewa/dewi Greko-Roman. Lingkungan munculnya Islam saat itu juga tidak terlepas dari budaya di sektiarnya.
Saat ditanya lagi apakah saya muslim? Jawab saya: tidak yakin. Sejatinya saya yakin betul bahwa saya dibesarkan di lingkungan sosio-kultural Islam Indonesia: baris agama di KTP saya bertuliskan Islam, nikah saya dicatat di KUA Lowokwaru di arsip bagian Islam, saya masih nglubak-glubuk shalat; tapi sejatinya saya ndak yakin apa benar saya sudah mencukupi batas ambang minimal klasifikasi kita sebagai "muslim" sesuai di deskripsi di Quran. Kalau Pak Amin bilang, cukuplah kita disebut orang Islam.
Rasanya ndak sedikit orang-orang yang disemati identitas sebagai orang Islam juga punya pendekatan yang sedikit-banyak bersamaan dengan pandanagan saya tentang Islam. Kan, ya?
PS: di hari Rabu pertama waktu saya SD, di kelas yang disebut Penanaman Akidah Pagi, hadits yang dibahas: النظافة من الإيمان yang punya sanad lebih syi'i ketimbang sunni.
Secara praktis kita bisa saja menjadi orang yang baik, rukun, etis, harmonis, kinyis-kinyis tanpa berpegang pada konsep-konsep di sekitar ketuhanan dan dogma-dogma lain dalam lingkup agama. Tapi tidak bisa dipungkiri juga, agama --sebagai kompilasi budaya kemanusiaan-- memberikan kerangka bertindak yang good enough.
Yah, namanya juga agama itu diemban dengan iman. Yang hendak beragama, beralih agama, atau mengukuhkan [kembali] agamanya, tentunya ada rasa bergolak naik-turunnya iman. Kalaupun Tuhan tidak terjelaskan buat kita, rasanya beriman kepada kemanusiaan juga ndak buruk. Walau narasi agama saya bilang bahwa Tuhan adalah Raja Kemanusiaan juga :)
git clone reponya-yang-mau-disalin-di-sini --depth 1
Saya punya sebuah unit printer HP 3520. Kemarin lusa printer ini ngadat ndak mau nyala. Saya coba ganti kabel power, bongkar: cek adaptor, bersihkan mainboard, cek kabel koneksi ke masing-masing modul; hasilnya nihil, printernya tetep ndak nyala. Saya beberes printer ini sambil bolos tarawih karena allegedly saya karantina pribadi setelah perjalanan luar negeri.
Ajaibnya, pagi ini saya shalat dhuha sehabis mandi pagi (saya sih ndak religius-religius banget, cuma biar kelihatan keren aja shalat sekali dua kali); si printer ini nyala! Puji Tuhan, printernya nyala.
Awalnya display agak tidak stabil dan cartridge tidak terdeteksi, yang segera bisa diperbaiki dengan membersihkan kontak kabel fleksibel (ada satu kontak yang hampir patah). Begini ini antara fitnah kesaktian atau berkah shalat. Akhirnya saya ndak harus beli lagi walau malamnya sudah pesan secara online (walau belum dibayar).
Printer HP terkenal gampang dibongkar dan diservis, atau paling engga dilakukan diagnosis apanya yang kenapa-kenapa.
CSS by Chama Digital. Template by Deluxe Templates. Support Dante Araujo. Best viewed on 1280px width display.