Jauh tapi Dekat

Jauh tapi Dekat

Frasa ini biasanya dipakai buat menggambarkan long distance relationship di mana pasangan biasanya berada di kota/pulau/negara yang berbeda, mereka menggunakan media telekomunikasi untuk tetap melakukan komunikasi untuk membina relasi afeksi tersebut.

Tapi kali ini punyaku agak beda.

Hari ini (19/7) Aris datang ke labku karena aku minta buat fotoin buat foto ijazah. Mari kita lupakan sejenak bagaimana kacaunya wajahku di depan kamera :) Di akhir pertemuan hari ini Aris tanya, "Skripsimu kok kedengarannya susah dan teknis banget: komputasi paralel, integral, Monte Carlo, cluster, Beowulf; sebetulnya apa, sih?" Di sisi lain aku juga menanyakan skripsi yang dikerjakan Aris mengenai estimasi kerugian moneter karena kemacetan yang terjadi di Malang (dan semakin parah).

Sempat dengan bodoh dan kurang idenya aku menjelaskan aplikasi metode Monte Carlo untuk simulasi particle transport seperti di jurnal IEEE yang jadi referensiku, tapi tentu yang begini buat Aris yang kurang aplikatif dan mudah dimengerti (aku juga bingung-bingung sendiri baca jurnalnya).

Baru saat aku mau keluar lab, Tuhan memberi pencerahan: skripsi kami berdua sebetulnya (bisa dibuat) bersinggungan.

Metode Monte Carlo yang aku kerjakan adalah metode numerik untuk analisis suatu fenomena (matematis); utamanya yang bersifat probabilistik, statistik atau stokastik; dari beberapa cacah variabel pengubah (multi-dimensional). Kalau di skripsiku sih sederhana: gunakan pembangkit bilangan acak untuk menghitung integral rangkap tiga dari suatu nilai yang dimuat dalam sebuah volume, jadi dimensi yang dikerjakan cuma 3 variabel bebas dan hasil akhirnya merupakan--let's say--massa benda dengan volume yang disebutkan batas integrasinya.

Sementara skripsinya Aris: memasukkan beberapa faktor untuk menghitung kerungian (dalam Rupiah) yang disebabkan oleh kemacetan. Aku tidak tahu tepatnya variabel apa, tapi dugaanku: durasi waktu, cacah kendaraan, jenis kendaraan, titik-titik kemacetan, jarak transportasi dan sebagainya.

Nah, sebetulnya metode Monte Carlo juga bisa dipakai buat analisis kemacetannya Aris, anggap saja variabel-variabel kemacetan tersebut sebagai variabel integrasi, tentukan persamaan-persamaan berbeda menurut 'jenis' kemacetan karena mereka cenderung bersifat diskrit satu sama lain (seperti yang Gio katakan), dan viola! Skripsi yang kolaboratif dan terdengan lebih seram buat dosen pembimbing dan penguji! :)

Yang membuat kita jadi teman--atau pasangan--adalah rasa untuk ingin menjadi berguna buat yang lain, dan itu karena pencerahan yang diberikan Tuhan. Kita memang seharusnya berbeda-beda, dan perbedaan tersebut adalah agar kita bisa melengkapi satu sama lain. Kalau kita masih belum bisa membantu yang lain berarti: ide kita lagi cekak, kita belum benar-benar mengerti apa yang kita lakukan, atau kita emang nakal.
---terima kasih Tuhan, buat rona spirituliisme, intelegensi dan nasionalisme yang aku rasakan ini

Anyway, Ris... aku tunggu fotonya, ya! Fotoku di-photoshop yang sakti biar kelihatan cakep!

One liner shell of the day : #22 (info drive)

Aku mau lihat informasi drive hdd yang nancep di komputer:

[code lang="bash"]# hdparm -I /dev/sd?[/code]

Tiang Listrik Tahun Baru Kemarin

Sudah dari dulu banget pengen post ini, tapi ga jadi-jadi. Certitanya tentang tiang listrik yang sekarang sudah ga ada.

IMG_20121231_091138
Tiang listrik lama di pertigaan Teknik-Hukum-FIA (depan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri).

Memang tiang listrik ini agak ngaco, guy wire-nya nylenthang ke barat dan mengambat pengendara yang mau belok kiri dari arah selatan. Posisinya juga (agak) ke tengah jalan tanpa tanda marka jalan (dulu ada rambu kalau ga salah, tapi rusak). Dilengkapi dengan lubang selokan di bawahnya yang menyebabkan lubang di tengah aspal menganga (dijejali bangku panjang di gambar ini).

Nah, mencerminkan seberapa kacaunya percencanaan pembangunan di kampus, karena tiang ini baru dihilangkan setelah 4+ tahun aku kuliah (ga tahu sebelum itu sudah seberapa lama).

Alhamdulillah, sekarang tiang dari samping gedung Pasca Sarjana FIA sudah langsung ke rumah trafo di depan Himpunan Teknik Industri dan ke Ekonomi.

Perempuan: Objektivisme

Objektivisme di sini bukan bagaimana bertindak secara objektif: tidak memihak, adil, dan tidak terpengaruh kepentingan pribadi yang punya implikasi negatif terhadap permasalahannya.

Objektivisme yang aku maksud adalah bagaimana waktu seseorang menganggap orang lain sebagai objek dari perasaan atau pikiran tertentu. Kali ini objeknya adalah perempuan kebanyakan belakang ini.

Kejadiannya belakangan ini ada konvergensi modus fashion banyak perempuan untuk tampil menarik dan cantik (utamanya dengan warna kulit cerah), tujuannya secara singkat adalah untuk mendapatkan kepercayaan diri dan berada pada lingkup tingkat kecantikan (blah!) yang setara dengan perempuan yang lain di lingkungannya.

Modusnya bisa dilihat mulai dari berjamurnya whitening cream pagi-siang-sore-malam (kaya jadwal makan aja), banyak dibukanya beauty clinic, aesthetic center, skincare clinic, dan model pakaian yang memaparkan lebih banyak luasan kulit ke udara terbuka (di tempat umum). Dengan fenomena ini, lebih banyak uang dan waktu yang dihabiskan perempuan dalam upaya mengusahakan dirinya terlihat (katanya) lebih cantik.

Nah, kasihannya: di lain pihak laki-laki menganggap kebanyakan perempuan yang merupakan praktisi modus tersebut adalah objek seksual to a certain degree; bukan menganggap mereka sebagai pribadi mandiri dengan kepribadiannya sendiri yang unik dan menarik. Fenomena konvergensinya malah memperparah keadaan: kebanyakan perempuan tampak sebagai "mainan" yang diproduksi secara massal, yang tentunya menguatkan objektivisme yang terjadi.
---paragraf ini kok kerasa jahat banget, sih!

Masalah objektivisme ini bisa berujung di hilangnya identitas sosial masyarakat yang madani secara seksual. Sebuah tabloid lokal mengutipnya dengan menarik kemarin: "Ya Allah, sisakan perawan untuk generasi kami". Hal ini (kalau sampai terjadi) disebabkan karena laki-laki dengan objektivisme menganggap perempuan sebagai objek gratifikasi seksual dan perempuan membuat kondisi di mana objektivisme tumbuh subur.
---in my honest oppinion: 'virginity' itu ga terlalu penting, yang jauh lebih penting itu 'chastity'

Solusi objektivisme ini secara garis besar ada satu (dengan dua kondisi): perempuan berpikir lebih dalam lagi bagaimana seharusnya mereka tampil di publik dan laki-laki belajar lebih menghargai perempuan di sekitarnya; toh perempuan di luaran itu gender yang sama dengan Ibu.

----------
Fashion-ku itu komputer, sepeda, elektronika; tentunya ga mainstream kalau jadi objek seksual buat cewe-cewe.

One liner shell of the day : #22 (mount disk image)

Ceritanya aku punya flashdrive yang aku backup pakai dd jadi image (image.bin). Isi flashdrive (8 GB) cuma 1 partisi FAT32 (VFAT). Nah, terus gimana kalau mau buka imagenya?

[code lang="bash"]# mount image.bin /tmp -o offset=1024k[/code]

Cluster Beowulf di Lab

Hari ini aku dapat pinjaman (ke lab) 6 unit board+procie i3 540 (generasi i3 pertama-tama kalo ga salah). Bakalnya set komputer ini masuk ke sistem cluster Beowulf garapan tiket lulus nanti untuk menambah 10 unit e7500 yang memang aset lab.

[caption id="attachment_717" align="alignnone" width="300"]itu ngarep apa pengen? bayu sama si cluster[/caption]

Sistem cluster Beowulf ini bakal melakukan komputasi numerik tertentu yang punya strategi: makin banyak, makin ramai, makin seru! Cuma mengandalkan beberapa utilitas di Linux: NFS, OpenSSH, OpenMPI.

[caption id="attachment_718" align="alignnone" width="225"] she's majestic, isn't she?[/caption]

Set komputer ini dapat pinjam dari Pak Waru dan Pak Aswin. Terima kasih buat Beliau berdua, saya bakal berusaha pakai komputernya sebaik-baiknya.

Berbagi Jalan dengan Sepeda

Di Kayutangan (Basuki Rachmad) aku melihat plat ini di pinggir jalan--bukan rambu juga, sih!

fira di depan rambu

Mari kita lihat lebih dekat.
closer look

Blah, menurutku ga perlu. Pengendara kendaraan di Malang (dan Jawa Timur secara umum) bersahabat dengan pengguna jalan lain. Kamu ga bakal ditendang ke pinggir jalan. Ga ada acara ramai-ramai naik ke troroar kaya di Jakarta. Semua berbagi jalan raya miliki publik yang dipakai bersama-sama.

Bahkan, buat pengendara sepeda: banyak orang yang besahabat. Aku pernah jatuh ke pintu mobil orang gegara cleat pedal belum lepas--dan beliau (dengan mobil van-nya) tidak marah, malah menasehatiku untuk memakai sepatu cleat yang lebih baik.


Kalau jalan pelan--jalan di kiri. Kalau masih dipepet, berarti kamu kurang kenceng jalannya.